Pembangunan RSI Aysha Bogor Diklaim Rugikan Warga, Ini Pengakuan Ketua RW Setempat

0
73

Cibinong, BogorUpdate.com
Rumah Sakit Islam (RSI) Aysha yang pembangunannya berlokasi di perumahan Acropolis, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, berindikasi memberikan banyak kerugian dan dampak buruk jangka panjang bagi warga sekitar.

Pasalnya, warga setempat mengklaim jika perencanaan pembangunan RSI Aysha ini telah di mulai sejak tahun 2018, tetapi hanya segelintir warga yang terlibat dan diminta persetujuan untuk proses pembanguan RSI ini.

“Situasi inilah yang memicu warga RW 18 untuk memberikan peringatan kepada RSI Aysha agar mempertimbangkan beberapa keberatan sekaligus terindikasi terdapat kecurangan dan tidak transparansinya proses pembangunan RSI Aysha ini
dengan kronologisnya yang yelah kita akan beberkan,” ujar Eka Suryawan salah seorang warga setempat dalam rilisnya, Selasa (27/10/2020).

Ia mengatakan, sejak 2018 sampai tahun 2020 ini pihak pengembang dalam hal ini Yayasan Pendidikan ArRohman tidak melakukan pelibatan dan partisipasi warga RW 18 secara terbuka dan transparan dalam penyampaian seluruh proses perencanaan pembangunan RSI Aysha, sekaligus manfaat yang bisa diterima warga.

Ia menduga, ada indikasi pemaksaan agar warga menyetujui proses pembangunan RSI Aysha, dimana persetujuan hanya dilakukan di tingkat RW tanpa mendengarkan aspirasi para ketua RT yang tidak menyetujui proses pembangunan tersebut, sehingga semua warga dianggap setuju hanya melalui perwakilan beberapa Ketua RT dan segelintir warga.

“Tidak transparannya Yayasan Pendidikan ArRohman dalam menjelaskan setiap tahapan dan detail pembangunan yang harus di uji sekaligus mendapatkan ijin dari pihak-pihak berwenang seperti
ijin Amdal (analisis dampak lingkungan) sekaligus tahapan pengelolaan limbah (padat dan cair) yang dianggap berbahaya RSI kedepannya,” paparnya.

Ia melanjutkan, penjelasan Amdal dan pengelolaan limbah berbahaya RSI sangat dibutuhkan warga untuk mengetahui seberapa besar resiko dan dampak berbahaya jangka panjang yang bisa dialami oleh warga sekitar dari pembangunan RSI tersebut.

Karena RSI berdiri di dalam komplek Acropolis, lanjutnya, dan di apit dua sekolah yaitu Anugrah Insani serta Al
Madina (pemiliknya sama Yayasan ArRohman) ditambah satu develover perumahan baru (ICON ACROPOLIS) dan warga kampung menggunakan fasilitas jalan yang sama, maka secara otomatis
akan membuat kemacetan, keributan, kecelakaan dan situasi lainnya yang tidak bisa diprediksi.

Eka juga membeberkan, dampak jangka panjang lainnya, diindikasi tingkat keamanan warga menjadi lebih rentan
terhadap pencurian dan kasus-kasus kriminal lainnya.

Menurutnya, situasi diatas memperlihatkan warga sesungguhnya mengalami kerugian paling banyak dari pembangunan RSI AYSHA tersebut, untuk itu Forum Aspirasi Warga RW 18 menyatakan tuntutan kepada
pengembang RSI dalam hal ini Yayasan Pendidikan ArRohman untuk melakukan musyawarah dan mufakat Kembali untuk menjelaskan seluruh kronologis dan keberatan warga diatas, dan meminta pengembang RSI untuk memberikan site plan yang komprehensif sekaligus mampu
menjawab tuntutan dan kerugian warga jangka panjangnya, jika pengembang RSI AYSHA tidak bisa memberikan jawaban terhadap keluhan warga tersebut. “Maka kami menyatakan menolak tegas pembangunan RSI Aysha di Komplek Acropolis Karadenan karena merugikan dan berindimasi mengancam jiwa warga sekitar,” tegasnya.

Terpisah, Ketua RW 18 Rakhmadi Dakhlan menjelaskan, terkait beredarnya surat yang mengatasnamakan forum aspirasi warga RW 18 perumahan Acropolis merupakan hoax. Pasalnya warga RW 18 sudah melakukan musyawarah dengan pihak pengembang RS Islam Aysha dan menghasilkan kesepakatan yang baik bagi warga.

Sementara, untuk kaitan soal perijinan yang dilakukan pengembangan kepada warga sudah dilakukan sejak 2018 dan selama proses tersebut selalu berkomunikasi dengan baik.

“Perijinan Amdal sudah keluar,” jelas Rakhmadi.

Menurut dia, semua proses seperti musyawarah dan sosialisasi selalu dilakukan pihak RS Islam kepada warga RW 18. “Kami sudah melakukan rapat berkali-kali, dan pengembangan sudah melakukan sosialisasi dengan baik,” tuturnya.

Rakhmadi juga menambahkan, keberadaan RS Islam Asya nanti kedepannya dianggap akan mempermudah akses kesehatan bagi masyarakat, maupun menambah penghasilan warga sekitar.

“Ini salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui program Bogor Sehat,” tegas ketua RW ini.

Selain itu, sambungnya, pihak RS Islam Aysha juga saat ini sudah membantu biaya operasional Keamanan terpadu RW 18, dan kedepannya akan membuat Penerangan Jalan Umum (PJU), meningkatkan kebersihan lingkungan, relokasi pedagang yang akan ditempatkan di tempat yang layak, dan akan membuat akses jalan menuju perumahan lebih rapi dan menarik, serta akan membantu pengembangan fasilitas umum dan sosial.

“RS Islam Aysha nantinya setelah beroperasi semua kegiatannya Islami,” terangnya.

Rakhmadi berharap, dalam proses tahap pembangunan RSI ini masyarakat sekitar tidak menilai negatif atas pendirian rumah sakit Islam Aysha tersebut.

“Karena semua yang dilakukan pengembangan baik dari perijinan dan semua kegiatan berkaitan dengan operasional RS akan memperhatikan kepentingan dan keselamatan masyarakat setempat khususnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Dede Sulaiman Legal PT Sari Gaperi (Acropolis) menuturkan, konsumen Acropolis harus memberikan dukungan penuh dengan dibangunnya RS Islam Asya, karena sudah sewajarnya diberi akses jalan dan kepentingan RS Islam buat masyarakat luas.

Ia menambahkan, pengembang RS selalu berkoordinasi dengan baik. “Dengan adanya RS Islam Ayhsa nanti maka lingkungan Acropolis akan berkembang pesat, tentunya akan mempunyai nilai plus bagi warganya dan masyarakat. Baik warga Acropolis maupun masyarakakat sekitarnya sehingga mendapatkan akses RS lebih dekat dengan rumahnya,” tandasnya.

 

 

 

 

 

(Rul/Gun/Bing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here