Atasi Keterpurukan Ekonomi Ditengah Pandemi, Pemdes Kiarasari Lakukan Terobosan Kreatif Ini

0
148

Sukajaya, BogorUpdate.com
Perkembangan semakin meningkat nya wabah Corona Virus Disease-19 (Covid-19) di indonesia telah mengguncangkan setiap daerah khusus nya diwilayah Kabupaten Bogor. Bukan saja masalah kesehatan publik, tetapi juga sektor ekonomi, bisnis, keuangan, sosial dan juga berdampak bertambahnya angka pengangguran yang sangat tinggi.

Namun berbeda dengan Pemerintah Desa Kiarasari, untuk mengatasi keterpurukan ekonomi, masyarakat melakukan terobosan-terobosan kreatif dengan memanfaatkan lahan seluas 1075,51 Ha, dari 60 % tata guna lahan merupakan digunakan untuk pertanian serta potensi serta ketersediaan sumber daya, dan mengubah cara pandang bahwa pandemi bukan semata rintangan untuk mengahalangi bisnis para petani diwilayah nya, namun ditengah pandemi covid ini masyarakat petani menjadikan peluang untuk menghasil kan pundi pundi rupiah dari hasil pertanian nya.

Kepala Desa Kiarasari Ahyar Suryadi mengatakan, dengan luas lahan yang subur, ketersediaan air yang berlimpah udara sejuk serta kebiasaan warga dalam bercocok tanam merupakan potensi prospektif untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata.

“Sebagai bentuk keseriusan untuk pengembangan wisata agro saat ini di desa kiarasari terdapat 14 kelompok tani, 3 Kelompok wanita Tani dan 1 Kelompok taruna tani yang mewadahi kaum milenial pada bidang pertanian,” ujarnya kepada wartawan saat acara panen perdana Ubi jalar Jepang dikampung Ciparahu Kemarin.

Ahyar menjelaskan, masing masing kelompok bergerak sesuai dengan potensi dan kecocokan komoditi yang tumbuh ditiap tiap lingkungan.

Salah satu komoditi andalan yang terbiasa ditanam oleh warga adalah Ubi Jalar, selain mudah perawatan, murah juga dari sisi biaya produksinya, komoditi ini memiliki pasar yang jelas baik ditingkat lokal, regional hingga export dengan harga yang cukup kompetitif.

“Saya berharap warga terus semangat dan giat memanfaatkan lahan untuk kegiatan produktif, tanam apa pun disini cukup baik dan tumbuh subur,” ungkapnya.

Sementara itu Itang (45) Ketua Kelompok Kiaraharapan Maju menuturkan, ada nya dukungan Pemerintah Desa Kiarasari dan apresiasi nya kepada petani sangat memberikan kemudahan langkah para petani untuk menggandeng pihak ketiga untuk membuka pasar exsport.

“Kami bergerak mengembangkan ubi jalar jepang karena permintaan pasar yang cukup tinggi, alhamdulilah berkat dukungan Pemerintah Desa dan UPT Pertanian Cigudeg, kami dapat bekerjasama dengan pihak ketiga yakni PT Multi flora Javanica, sehingga untuk pemasaran tidak lagi ada kesulitan ini sangat mempermudah para petani untuk memasarkan hasil buminya ke pihak ketiga,” paparnya.

Itang mengaku, Pada tahap awal ini kami baru mencoba di kampung Ciparahu, Cirarak dan Cibuluh dengan lahan seluas 4 Hektar, petani yang terlibat sebanyak 25 kepala keluarga,” sambungnya.

Sementara, Kepala UPT/BPP wilayah Cigudeg Dadang Kostaman yang didampingi koordinator dan penyuluh lapangaan menegaskan, bahwa kegiatan budidaya ini baru bersifat “Pilot Project” karena komoditi yang dikembangkan ini meskipun sama sama ubi jalar tapi bukan komoditi yang biasa ditanam warga, sehingga butuh kehati hatian dan perhitungan yang jelas jangan sampai petani mengalami kerugian.

“Dengan hasil seperti ini, kami sangat senang karena standar spesifikasi kualitas sudah sesuai dengan kontrak antara kelompok tani dengan pihak exportir. Bobot spesifikasi antara 100 – 250 gram/biji, varietas yang diuji cobakan adalah jenis ubi jalar jepang merah Benia Azuma,” terangnya.

Terpisah Nurodin, SH alias Jaro Peloy anggota DPRD Kabupaten Bogor
Menyampaikan, inisiatif dan langkah nyata Kelompok Tani Kiaraharapan Maju didukung oleh Pemdes Kiarasari dan Dinas terkait merupakan langkah positif yang perlu terus didukung serta dikembangkan.

Selain untuk penciptaan lapangan kerja baru, kegiatan ini pun memilki dampak positif terhadap pemanfaatan lahan, jangan ada lagi lahan terlantar ya tidak produktif.

Hanya memang petani perlu didampingi secara serius dari mulai hulu hingga hilir, butuh kerjasama yg baik antara Masyarakat, Pemerintah dan Dunia usaha.

“Ia berharap, sehingga pada saatnya cita cita Satu Desa satu Produk Unggulan (One Village One Product) dapat terwujud,” tukasnya.

 

 

 

 

 

(Agus/bu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here