Tanaman Porang Naik Daun dan Sedang Diburu, Ada Apa? Ini Kata Prof. Edi Pakar IPB University

0
88

Lifestyle, BogorUpdate.com
Belakangan ini tanaman porang sedang naik daun. Masyarakat banyak berburu bahan pangan yang satu ini. Melihat fenomena ini, Prof Edi Santosa, Guru Besar IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura turut memberikan komentar.

Prof Edi menjelaskan tanaman porang termasuk dalam famili Amorphophallus. Ia menjelaskan, Indonesia memiliki 24 jenis Amorphophallus dari 200 jenis yang tersebar di seluruh dunia.

“Ada sekitar 24 jenis Amorphophallus asli Indonesia dan tanaman ini hanya ada di dunia lama seperti Indonesia,” ujar Prof Edi.

Secara botani, kata Prof Edi, dunia terbagi menjadi dua yaitu dunia lama dan dunia baru. Dunia lama terdiri dari Indonesia, Afrika dan Asia sementara dunia baru terdiri dari Amerika, Eropa dan Australia. Dengan demikian, tanaman Amorphophallus tidak ditemukan di dunia baru.

Lebih lanjut ia menerangkan, dari 200 spesies tanaman Amorphophallus, hanya ada tiga jenis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Jenis tersebut adalah Amorphophallus konjac, A. paeoniifolius (suweg) dan A. muelleri (porang atau iles-iles). Prof Edi menegaskan bahwa porang ini berbeda dengan acung (A. variabilis).

“Dari tiga jenis tanaman komersial ini, di Indonesia yang paling banyak berkembang hanya ada dua, yaitu A. paeoniifolius dan A. muelleri,” katanya.

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University ini juga menjelaskan, tanaman porang ini awalnya merupakan tanaman hutan. Lebih lanjut ia menerangkan, pemanfaatan tanaman A. muelleri atau porang dimulai sejak masa penjajahan Jepang (1942). Sebelumnya, Jepang telah membudidayakan A. konjac. Lalu saat menduduki Indonesia, tentara Jepang memanfaatkan porang sebagai logistik perang.

“Paling banyak yang dibawa itu adalah porang dan acung. Saat itu Jepang memanfaatkan tanaman ini untuk logistik perang terutama untuk sumber makanan. Sayangnya catatan sejarah kita terputus, catatan yang ada itu masyarakat kita dulu sudah mengonsumsi porang tetapi belum diketahui sejak kapannya,” tambah Prof Edi.

Ia menjelaskan, tanaman porang mulai intensif dibudidayakan sejak tahun 1980-an. Saat itu, Perhutani mengintroduksi porang atau iles-iles ke Cepu. Tanaman porang tersebut ditanam di bawah tegakan tanaman jati.

Terkait budidaya tanaman porang, Prof Edi menjelaskan tanaman tersebut dapat ditanam di mana saja. Tanaman porang dapat ditanam di bawah naungan maupun lahan sawah terbuka.

“Porang ini kan awalnya tumbuh di hutan, jadi bisa ditanam di bawah tegakan maupun di lahan sawah terbuka. Kalau hidup di hutan saja sudah bagus apalagi kalau dibudidayakan secara intensif dan terawat,” kata Prof Edi.

Lebih lanjut, Prof Edi menilai, tanaman porang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kandungan senyawa di dalamnya. Berdasarkan penelitian, tanaman porang memiliki kandungan senyawa glukomanan yang tinggi.

Senyawa glukomanan ini dinilai dapat menjadi sumber bahan pangan yang sehat, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, mencegah kanker, menurunkan berat badan, dan mengatasi sembelit. Di sisi lain, senyawa glukomanan ini juga dapat dimanfaatkan untuk pelapis obat di bidang medis.

 

 

 

 

 

 

(ipb/rie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here