Peneliti IPB Minta Pemkot Bogor Tingkatkan Revitalitas Pasar

BOGOR UPDATE

KOTA BOGOR – Mahasiswa Program Doktor jurusan Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Akhmad Edhy Aruman, ini membuat disertasi terkait Model Komunikasi untuk membangun kesiapan perubahan pedagang Pasar Tradisional Kota Bogor, menjadi perhatian khusus untuk bahan penelitian.

Disertasi tersebut kemudian dipresentasikan saat Sidang Promosi Terbuka, dihadapan para penguji yang salah satunya Wali Kota Bogor Bima Arya di Gedung Sekolah Pascasarjana IPB Dramaga, Bogor, Senin (31/7/17).

Akhmad mengatakan, sebagian besar pasar yang dibangun melalui pogram revitalisasi belum sepenuhnya berfungsi optimal. Dalam beberapa kasus revitalisasi, ada pedagang yang memprotes revitalisasi pasar. Hal tersebut karena kecenderungan sosiologis pedagang pasar tradisional yang menempatkan kecurigaan berlebihan terhadap segala bentuk pembangunan.

“Pedagang menyalah artikan jika ada pembangunan berarti sewa atau pembelian kios menjadi mahal dan merugikan pedagang yang telah menempati kios sebelumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, penelitian ini berawal dari dugaan komunikasi yang dilakukan selama rencana revitalisasi pasar cenderung satu arah. Padahal dalam kegiatan revitalisasi sangat dibutuhkan keterlibatan semua stakeholders. Penelitian lapangan pun dilakukan sejak Februari hingga September 2016 dengan responden sebanyak 559 pedagang dan pemilik kios di empat pasar.

“Dua pasar yang sudah direvitalisasi Pasar Gunung Batu dan Pasar Blok B Kebon Kembang, sementara dua pasar yang direncanakan direvitalisasi Pasar Bogor dan Pasar  Blok F Kebon Kembang,” terangnya.

Akhmad menerangkan, dari hasil penelitiannya menunjukan penyebarluasan informasi mengenai rencana revitalisasi pasar dilakukan melalui selebaran, spanduk, papan pengumuman di pasar yang merupakan model komunikasi satu arah. Dalam satu tahun komunikasi dua arahnya yakni  hanya dilakukan tiga kali dialog namun tidak berlangsung secara memuaskan. Menjadikan kesiapan pedagang menghadapi revitalisasi pasar masih lemah dan menimbulkan ketidaksiapan pedagang untuk berubah.

“Disini saya menyarankan Pemerintah Kota Bogor tidak hanya berfokus pada sisi manajemen fisik, tetapi juga pedagangnya diberdayakan dengan meningkatkan kapasitas kewirausahaan pedagang dan dapat merubah strategi komunikasi dengan melibatkan pengelola pasar sebagai sumber pesan yang kredibel,” terangnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, sebagai pemangku kebijakan sering kali mendapatkan hambatan. Padahal, jika dilihat kegiatan tersebut baik tetapi penerimaanya kerap tidak baik. Perihal pasar, ini merupakan pertemuan berbagai kepentingan tidak hanya kepentingan ekonomi, tetapi juga politik. Sehingga tidak timbulnya pro kontra dan tidak lahi netral bagi penerima pesan.

“Saya berkeinginan agar penelitian ini dapat memberikan sumbangsi saran dari sisi akademis terkait permasalahan revitalisasi pasar,” terang Bima. (Rie)

 

 

Editor: Sahrul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *