Terbukti Nilep Dana Rutilahu, Kades Sukamanah Kembalikan Uang Rp150 Juta, Ini Kata Kejari

0
684

Cibinong, BogorUpdate.com
Dugaan kasus Korupsi rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Desa Sukamanah, Kecamatan Jonggol kini sudah berakhir dengan pengembalian uang oleh Kepala Desa (Kades) Sukamanah, beberapa waktu lalu. Hal itu disampaikan Kasie Intel Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Juanda saat ditemui dimeja kantornya. Menurutnya, dari hasil penyelidikan, Kades memang terbukti merugikan Negara dan sudah ada itikad baik untuk mengembalikan kerugian tersebut.

“Memang betul kasus korupsi dana Rutilahu yang dilakukan oleh Kades Sukamanah sudah selesai lantaran Kades bersedia mengembalikan sejumlah uang senilai Rp150 juta sesuai dengan penghitungan kerugian Negara berdasarkan dari hasil temuan Kejaksaan. Uang tersebut lalu disetorkan ke Kas Daerah (Kasda), karena mekanisme pengembalian uang Negara itu melalui Bank BJB ke Kasda dan itu dilakukan oleh Kades langsung dan ada bukti setornya,” terang Juanda, Kepada Bogorupdate.com, Rabu (8/7/20).

Juanda menambahkan, dari hasil temuan oleh Kejaksaan dilapangan sebagian Dana Rutilahu yang di pakai oleh terduga sudah ada yang dibangunkan sebagian. Oleh karena itu, ditemukan hitungan berapa yang tidak disetorkan oleh terduga untuk pembangunan fisik Rutilahu di Desa Sukamanah. Berdasarkan hitungan itu, kemudian didapatlah angka senilai Rp150 juta.

“Mengenai cacat hukum setelah mengembalikan kerugian negara, memang kan kalo kita berbicara hukum tindak pidana korupsi itu tindak pidana formil sebenarnya kan. Jadi sebuah perbuatan yang dilakukan ada kerugian. Dalam perkembangannya, kerugian itu menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Bahkan dalam Pasal 2 dan 3 tentang kerugian negara, unsur kerugian negaranya itu kan harus jelas dan nyata. Kalau itu sudah ada dalam perjalannya bahwa penegakan hukum itu harus melakukan upaya ‘Restorative Justice Sistem’ atau sebuah pendekatan yang ingin mengurangi kejahatan dengan menggelar pertemuan antara korban dan terdakwa,” Paparnya.

Masih kata Juanda, memaparkan bahwa kejadian tersebut ada ‘Anomali’ sebenarnya. Bahwa dilapangan ada permasalahan kepala desa saat menjabat ada aturan atau hal-hal yang tidak bisa dijangkau. Misalnya administrasi pemerintahan dan lainnya yang berkaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) Ketika dia ada itikad baik mau mengengembalikan apalagi ini prosesnya masih preventif. Karena di Seksi Intelejen Kejaksaan itu harus melakukan pendekatan Preventif, berbeda dengan Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) yang harus melakukan penindakan dimana proses penyidikan sudah tidak bisa mundur lagi harus dilanjutkan walaupun ada pengembalian.

“Makannya ketika ada itikad baik dan mau melakukan perubahan dan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan itu diberikan kesempatan, masa kita harus tetap ditindak lanjuti. Disini ada juga paradikma yang salah dalam berfikir dimasyarakat ataupun khususnya pelapor, bahwa ketika memasukan laporan ke Kejaksaan itu ending dan tujuannya ini adalah benar ini harus di hukum, ini yang harus diluruskan maksudnya kita tidak mau terlibat apa yang menjadi tujuan pelapor tetapi lebih kepada aturan dan mekanisme hukum yang berlaku. Kemarin ada pengembalian kerugian negara dan itu selaras dengan pola pembangunan dalam rangka peningkatan kwalitas Pemerintahan Desa,” jelasnya.

Tidak juga semua yang dilaporkan berujung kepada terbuktinya perbuatan atau hukum pemidanaan. Karena semuanya itu sudah mulai dikesampingkan. Kalaupun orang dihukum tapi keuangan Negara tidak kembali lalu apa manfaatnya, kalau biaya penangannya lebih besar dari kerugian negara maka menjadi mudarat juga. Karena penanganan kasus korupsi ini biayanya tidak sedikit juga.

“Tahap kami di bidang Seksi Intelejen itu pendekatan preventif dulu dilakukan kecuali mereka tidak ada itikad baik atau sudah menyerah baru kita lakukan upaya penindakan. Nah efek jeranya itu nanti yang kita lihat kedepannya, ada perubahan atau tidak kalau kades membuat lagi ya say to sory (maaf). Berarti tidak kamu ga ada jeranya untuk berikutnya menjadi tanggungjawab bersama untuk melakukan pengawasan kalau kemudian membuat kesalahan lagi ya maaf tidak ada ampun lagi” tegasnya. (Jis/Bing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here