Rektor IPB University: Potensi Industri Halal di Indonesia Sangat Menjanjikan

0
46

Prof Arif Satria, Rektor IPB University

Ekobis, BogorUpdate.com
Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya muslim, Indonesia menduduki 10 besar industri halal dalam berbagai bidang, terutama ekonomi syariah. Namun demikian, peringkat tersebut tidak lantas menjadikan Indonesia unggul dalam sains halal. Bahkan faktanya masih tertinggal dari Thailand. Negara dengan minoritas muslim ini memiliki pusat studi kajian halal terbesar di dunia.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi Sharia Economic Talk with Gunawan Yasni dengan tema “The Philosophy of Halal Science“, Kamis (17/06/21), Prof Arif Satria, Rektor IPB University berkesempatan untuk berdiskusi membahas tentang ilmu pengetahuan halal.

Dikatakannya, IPB University dikenal sebagai inisiator terbentuknya LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia). Yakni sebuah lembaga yang membantu pemerintah sebagai pemeriksa halal. Dibentuknya lembaga tersebut, pada tahun 1989, merupakan komitmen IPB University untuk terus mengembangkan studi kajian halal. Sejak tahun berdirinya LPPOM MUI, banyak peneliti IPB University yang telah mengambil peran sehingga kini dapat dikembangkan Halal Science Center di IPB University.

“Halal Science Center IPB University ini menurut saya sebuah lembaga yang penting untuk riset pengembangan R&D (Research and Development). Terutama di bidang autentikasi bahan, teknologi inovasi halal dan sistem jaminan halal. Di saat yang bersamaan kita juga concern pada bidang pengembangan manusia serta menjadi alasan untuk memperkuat ekosistem sistem jaminan halal di Indonesia,” ungkap Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University ini.

Melihat pangsa pasar halal yang luar biasa potensial, menurutnya Indonesia juga menjadi pasar yang menjanjikan. Terlebih lagi pertumbuhan penduduk muslim kian bertambah secara eksponensial dalam beberapa dekade terakhir. Di tahun 2030, diperkirakan penduduk muslim dunia akan mencapai 2,2 milyar jiwa. Sudah teridentifikasi juga bahwa nilai ekonomi industri halal telah mencapai 1,8 triliun US Dóllar pada tahun 2015.

“Menurut saya, hal ini merupakan kesempatan bagi Indonesia yang memiliki nilai ekonomi, dari aspek konsumen. Dari produk makanan halal saja sudah mencapai 197 milyar US Dólar. Jadi artinya kita ini melihat potensi untuk produk-produk industri halal, untuk ekonomi. Dan di saat yang bersamaan memberikan akses pada masyarakat untuk mendapatkan produk halal. Ini saya kira merupakan hal yang sangat penting,” tambahnya.

Ia belajar kuatnya sains halal dari Thailand terutama dengan hadirnya pusat studi kajian halal di Universitas Chulalongkorn. Menurutnya kekuatan tersebut tidak lepas dari komitmen Thailand sebagai “kitchen of the world”. Sehingga menjadikan Thailand untuk siap menyajikan produk pangan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dunia.

“Artinya, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim sudah saatnya untuk turut bersaing sebagai pemimpin industri halal di dunia,” tutupnya.

 

 

 

 

 

(ipb/rie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here