Prof Euis Pakar IPB, Tekankan Pentingnya Keluarga sebagai Pencegah Serangan Seksual

  • Bagikan

Lifestyle, BogorUpdate.com
Pakar Ketahanan Keluarga IPB University, Prof Euis Sunarti hadir sebagai narasumber dalam webinar nasional “Urgensi Memperkuat Narasi Keluarga dan Konsep Ketahanan Keluarga dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia dalam Aspek Pencegahan Serangan Seksual”, Jumat (30/7/21).

Dalam webinar tersebut, Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen-Fakultas Ekologi Manusia (IKK – Fema) IPB University ini mengulas bagaimana peran keluarga dalam mencegah kelahirannya sebagai pelaku maupun korban kejahatan seksual.

Prof Euis menjelaskan bahwa keluarga adalah institusi pertama dan utama sebagai penentu akhlak, adab dan karakter individu. Sehingga, keluarga berketahanan kuat yang sebenarnya diharapkan sebagai fondasi peradaban bangsa.

“Sejatinya tiap peraturan dan perundang-undangan karena untuk manusia, yang seseorang terlahir dari dan berada dalam keluarga maka keluarga menjadi dasar pengembangan aturan dan pengambilan setiap kebijakan. Saat ini banyak hal yang menunjukkan penyakit seksual. Bagaimana kita bisa membangun masyarakat madani Indonesia beradab, kalau ini terus terjadi,” ungkap Prof Euis.

“Oleh karenanya, Peninjauan Kembali ke Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pasal 284, 285, 292 dalam rekomendasi Mahkamah Konstitusi (MK) menyarankan agar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengatur perluasan delik kesusilaan dalam revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),” sambung Prof Euis.

Semua dukungan bahwa ketahanan keluarga sebagai prasyarat untuk pencegahan kejahatan (KS). Dari sekian banyak perspektif sistem dan lingkungan, baik lingkungan mikro, meso, hexo, dan makro, maka keluarga yang paling setia menemani seorang individu.

“Begitu pun dari dimensi kehidupan lain seperti pendidikan, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan politik, menjadi dasar perumusan peraturan perundang-undangan maupun kebijakan lainnya,” imbuhnya.

Prof Euis memaparkan hasil penelitian bahwa keluarga Indonesia adalah keluarga yang religius, hierarkis, dan harmonis. Dimana hierarki di sini berarti adanya pembagian peran, fungsi dan tugas antar anggota keluarga. Bukan untuk mendiskriminasi atau memasung perempuan. Sehingga untuk mencegah lahirnya pelaku dan korban KS, Prof Euis perlu adanya optimalisasi dan harmonisasi kualitas feminin dan maskulin. Keluarga perlu mengawal perkembangan aqil-baligh anak. Dan setiap anggota keluarga harus menerima perbedaan untuk saling memposisikan diri masing-masing.

“Kita perlu tahu, bagaimana sebelumnya instrumen-instrumen internasional mempengaruhi kebijakan di Indonesia. Oleh karena itu, ketika instrumen internasional sudah terlanjur diratifikasi, maka perlu dikawal agar tidak berdampak terhadap aspek-aspek kehidupan dalam bernegara atau berkeluarga,” imbuhnya lagi.

 

 

 

 

 

(ipb/rie)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.