Polbangtan Kementan Bogor Kembangkan Budidaya Maggot Sebagai Pakan Ternak

0
44

Lifestyle, BogorUpdate.com
Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Kementerian Pertanian yang berada di Bogor kembali melakukan inovasi dalam bidang peternakan. Jurusan Peternakan yang berada di Kampus Cinagara ini menggunakan Maggot BSF sebagai pakan ternak alternatif bagi ayam KUB.

Inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa Polbangtan Bogor ini merupakan salah satu bukti keberhasilan pendidikan vokasi pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengungkapkan, pendidikan vokasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mencetak petani milenial yang unggul dan berwawasan luas. Menurutnya, melalui pendidikan vokasi Kementan berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian khususnya generasi milenial.

“Pendidikan vokasi punya peran penting hasilkan petani milenial yang berjiwa entrepreneur. Melalui pendidikan vokasi kita menghubungkan dengan industri-industri agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan, dan siap untuk hal-hal yang baru,” jelasnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, pendidikan vokasi dalam sektor pertanian berperan mendidik kaum milenial agar tertarik di sektor pertanian.

“Pendidikan vokasi diselenggarakan oleh Kementan bertujuan untuk menghasilkan qualified job seeker dan job creator,” tegas Dedi.

Budidaya maggot yang dilakukan di Kandang TEFA Ayam KUB, Jurusan Peternakan, Kampus Cinagara ini melibatkan Juju Julaeha selaku PLP dan Engkos Koswara selaku petugas kandang. Menurut Juju, maggot BSF dibudidayakan dengan cara memancing lalat dewasa bertelur pada media (fermentasi dedak), kemudian baby maggot yang baru menetas dipelihara dalam biofond yang terbuat dari sampah organik (limbah dapur, sayur-sayuran dan buah-buahan busuk).

“Setelah menjadi larva maka bisa dipanen dan diberikan sebagai pakan ayam KUB dalam bentuk segar atau dibuat tepung,” ujar Juju. Adapun pemberian maggot BSF yaitu sebesar 50 persen dari total pakan yang diberikan,” imbuhnya.

Lilis Riyanti, Dosen Jurusan Peternakan, Cinagara menambahkan, penggunaan maggot sebagai pakan ternak memang sedang populer di kalangan peternak, terutama peternak unggas. “Kandungan protein kasar (PK) maggot cukup tinggi sekitar 40-60 persen bergantung pada umur maggot. Kandungan PK yang tinggi ini dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti pakan sumber protein seperti bungkil kedelai dan tepung ikan sehingga dapat menekan biaya pakan bagi ayam KUB,” ungkap dia.

Di sisi lain, ia menegaskan jika Tefa Jurusan Peternakan akan terus mengembangkan maggot sebagai salah satu bahan pakan berkualitas tinggi tentunya dengan memanfaatkan limbah peternakan dan limbah organik lainnya.

Ketua Jurusan Peternakan, Arif Nindyo menambahkan, usaha ternak unggas pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, dimana 70-80 persen biaya produksi adalah biaya pakan. Pengembangan bahan pakan alternatif dengan biaya rendah sangat dibutuhkan untuk mensiasati biaya pakan yang mahal agar peternak tetap dapat meraup keuntungan.

“Maggot BSF sebagai pakan alternatif adalah salah satu solusinya, karena mudah dikembangbiakkan, bisa memanfaatkan limbah organik dan merupakan sumber protein yang tinggi bagi ternak ayam. Jurusan Peternakan mengapresiasi usaha yang dikembangkan oleh PLP dan diharapkan dapat sebagai media praktik dan pembelajaran bagi mahasiswa Jurusan Peternakan,” pungkasnya. (bu/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here