Meski Minim Anggaran dan Landfill Swadaya, UPT TPAS Galuga Kota Bogor Ngotot Pertahankan Adipura

Kondisi TPAS Kota Bogor. (Ist)

Cibungbulang, BogorUpdate.com – Kejar target demi meraih Penghargaan Anugerah Adipura tahun 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Perbaikan Kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga digeber meski dengan minimnya anggaran.

Tak hanya itu, penataan lokasi TPAS Galuga milik Kota Bogor berupa penutupan Landfill (Tempat Pembuangan Akhir) menggunakan tanah merah di lokasi milik Kota Bogor juga dikerjakan dengan kerja bakti (swadaya).

Kasubag TU UPTD pada , menjelaskan bahwa pihaknya dituntut untuk bekerja lebih baik mulai dari pembenahan kantor UPTD hingga ke persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

‘Kebetulan kami ada rezeki di pemeliharaan makanya kami benahi saja (kantor) agar ketika ada tamu enak dan nyaman. Jadi, intinya itu bukan untuk memperkaya diri tetapi hanya untuk pembenahan agar lebih baik lagi,” ungkap Beti Kusmiati dijumpai pada, Sabtu (16/9/23).

Dia menjelaskan, bahwa anggaran pemeliharaan bangunan kantor UPT berupa penggantian lantai kramik dengan Granit, perbaikan Plafon termasuk lampu dan juga perbaikan kamar mandi hanya sekitar Rp 20 juta.

“Cuma 20 juta anggaran pemeliharaan dari dinas. Sehingga kami berfikir apa nih dengan uang 20 juta ini. Akhirnya setelah kami hitung-hitung agar tidak meleset dari itu, jadi si uang 20 juta itu kami pakai untuk mengganti Keramik pake granit, plafon (PVC) sama kamar mandi dan mengecat,” ungkapnya.

Dirinya tidak menampik, pelaksana pekerjaan itu dilakukan oleh dia yang juga sebagai Kasubag TU UPTDTKS dan menurutnya hal itu agar anggaran yang hanya Rp20 juta tetapi hasilnya sesuai dengan harapan.

“Kan ini tidak melenceng yah dan boleh sih tidak di pihak ketiga kan. Gini kan kita pengen semaksimal mungkin dengan uang yang minim kita bisa loh dengan uang segitu gak usah mengeluarkan uang besar tetapi pengen maksimal gitu sih. Memaksimalkan anggaran yang ada tetapi hasilnya bagus,” katanya.

Beti Kusmiati mengatakan, para pekerja sebagian dia bawa dari luar wilayah galuga dan ada beberapa pekerja merupakan warga sekitar.

“Nah, maksudnya orang lain itu, karena saya pernah melihat pekerjaan dia bagus. Jadi mengambil inisiatif karena pekerjaannya bagus. Memang sih seharusnya anak anak lokal sini tetapi untuk kedepannya oke kami ambil,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Kepala UPTD TPA Galuga pada DLH Kota Bogor, megatakan, dalam ragka menyambut tim penilaian Adipura tahun 2023 pihaknya menginginkan ada sebuah perubahan.

“Pertama itu, karena kami punya hamparan sampah. Di tahun 2022 lalu penilaian itu kami sudah di angka 50 persen dan di tahun 2023 ini target kami itu menjadi 70 persen zona hijau dan 30 persen zona aktif hamparan sampah,” katanya.

Sehingga, kata dia, untuk mencapai target tersebut, pihaknya harus menutupi sebagian besar hamparan sampah dengan Landfill menggunakan urugan tanah merah. Sehingga, pihaknya memanfaatkan tanah dengan mengambil tanah yang ada di hamparan tanah milik UPTD TPA Kota Bogor.

“Kami punya tanah juga masih banyak selain di hamparan sampah. Jadi, kami tidak beli tanah (Urugan) ke luar. Kecuali, kalau dalam bentuk kegiatan, baru kami beli, kalau tidak ada kegiatan, kita tidak beli dan kami inisiatif saja untuk kejar target ini,” ujarnya.

Pengurugan Landfill itu, kata dia, sudah berlangsung sekitar tiga hari yang lalu. Lantaran tidak ada anggaran operasional untuk tahan urugan, pihaknya harus menyiasati dengan meminta bantuan kepada supir armada truk sampah untuk mengangkut tanah.

“Ya setiap kita minta tolong kalau dia mau ya silahkan ambil, kalau dia (supir) tidak mau ya dia pulang karena tidak ada anggaran untuk itu,” katanya.

Dirinya menjelaskan perbedaan urugan tanah merah berupa kegiatan dengan penutupan Landfill.

“Kalau kegiatan itu semua dikerjakan sama pihak ketiga, mungkin pelaksana itu nantinya beli tanah atau bagaimana. Misalkan ada pengurugan berarti tanahnya darimana. Tapi, kalau yang (Landfill) ini tidak (beli) dan ini inisiatif sendiri lah karena kami kejar target penilaian Adipura,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *