Meski Didukung Ketua MUI Kabupaten Bogor, Warga Acropolis Tetap Tolak RS Aysha

0
105

Cibinong, BogorUpdate.com
Polemik dalam pembangunan Rumah Sakit Islam (RSI) Aysha yang terletak di lingkungan komplek Acropolis Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor terus bergulir.

Pasalnya, masyarakat yang menolak dengan adanya pembangunan RS ditengah permukiman ditempat mereka tinggal disinyalir bakal memberikan efek tak baik serta lokasi yang berdekatan langsung dengan sekolah islam Al-Madinah Bogor akan yang dianggap juga akan mengganggu psikologis sang anak (Murid, red).

Salah seorang warga komplek Acropolis di RT 10 RW 18 Kelurahan Karadenan, Eka Suryawan mengatakan, jika saat pelaksanaan peletakan batu pertama yang dihadiri ketua MUI Kabupaten Bogor, hingga mantan Bupati Bogor periode 2013-2018 Hj, Nurhayanti di lokasi yang akan dibangun sebuah RSI milik tayasan Ar-Rohman yang juga pemilik sekolah Al-Madina.

Menurutnya, peletakan batu pertama yang dilakukan ada 6 November 2020 kemarin itu yang diketahui dirinya itu akan dilakukan peletakan batu pertama langsung oleh Bupati Bogor, Ade Yasin.

“Tapi nggak jadi, karena sebelumnya pada tanggal 4 November ada pertemuan (mediasi, red) antara kita (warga perumahan yang mempersoalkan, red) dengan pihak RSI Aysha di kantor Kecamatan Cibinong,” ujar Eka saat dihubungi Bogorudate.com, Kamis (12/11/20) malam.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan itu Muspika setempat sendiri mengimbau dengan adanya pro kontra dalam pembangunan RSI Aysha tersebut, yang mana disarankan untuk tidak melakukan peletakan batu pertama.

“Tapi nggak tahu kalau memang tetap dilakukan acara simbolis peletakan batu pertama. Berarti kan pihak RSI tidak mendengarkan imbauan muspika tersebut dong, karena masih saja melaksanakan peletakan batu pertama walau sudah diberi imbauan,” bebernya.

“Dari situ saja sudah bisa disimpulkan, sebetulnya ada apa si?. Kayanya ngotot banget dengan rencana pembangunan RS ditengah pemukiman warga komplek Acropolis Karadenan Bogor ini,” tanya dia.

Pada dasarnya, sambung dia, warga Acropolis dan pribadi dirinya yang kontra dengan adanya pembangunan RSI Aysha ini dengan tegas sama sekali menolak dengan adanya pembangunan RSI tersebut.

“Jadi bukan rumah sakitnya yang kita persoalkan, karena kita juga tahu dengan kondisi sekarang ini sarana tempat kesehatan itu sangat penting. Tetapi yang kita sayangkan kenapa si harus didalam perumahan dan yang lebih parahnya lagi menurut kami walaupun Al-Madina masih satu pemilik dengan RSI Aysha tapi mengapa lokasi pembangunan Rumah Sakitnya mesti sampai nempel dengan sekolahan Al-Madina maupun Sekolahan Anugerah Insani yang nantinya tak menutup kemungkinan akan mengganggu sikologis anak yang sedang melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” jelasnya.

Selain itu, dirinya dan beberapa warga yang ikut menolak tersebut menyatakan rasa kecewa dengan tidak dilibatkan secara utuh, hanya segelintir orang saja dalam hal ini pengurus ketua Rukun Warga (RW) dan sebagian ketua RT. Dan dari unsur pimpinan warga di wilayah itu tanpa adanya rembukan bersama dengan para warganya dimasing-masing wilayah tiba-tiba mengklaim menyutujui.
“Padahal kami warga tidak ada yang setuju termasuk saya salah satunya, karena apa? Karena Rumah Sakit ini tidak tahu persis rumah sakit ini kok berjalan,” terangnya.

Lebih lanjut Eka memaparkan, disaat dirinya membeli rumah yang ia tempati bersama keluarganya pada tahun 2013 silam, dimana pihak developer Komplek Acropolis dengan jelas-jelas tidak menunjukkan adanya fasilitas pembangunan rumah sakit di dalam site plan yang tunjukkan.

“Hanya ada fasilitas waterboom (Kolamrenang, red) saat penunjukkan site plan ketika saya baru membeli rumah di komplek Acropolis ini ditahun 2013. Nggak ada waterboom tapi malah RS yang dibangun,” kesalnya.

Menurutnya lagi, jika ketua RT 10 RW 18 yang dia tinggali itu sebetulnya dalam perijinan warga pun tidak memutuskan untuk setuju (Ubstain, red), tetapi ketua RW 18 yang dia ketahui mengklaim bahwa hal ini sudah sepakat.

“Padahal RT nya sendiri masih ada yang belum sepakat. Jadi ketua RT kita Ubstain hasil dari notulensi di rapat pertama pada maret 2018 silam, sampai sekarang juga ketua RT kami tidak setuju karena warganya tidak setuju dengan adanya pembangunan Rumah Sakit ditengah-tengah perumahan Acropolis ini,” akunya.

Dirinya menyimpulkan, dalam polemik pembangunan RSI Aysha itu sebenarnya untuk benang kusutnya berada di ketua RW 18 yakni bernama Rakhmadi yang sudah menyatakan sudah memberikan ijin.

“Sebetulnya, kalau bisa dilihat sendiri benang kusutnya ada dipengurus RW, cuman kenapa sampai akhirnya kami meramaikan penolakan ini sampai ke rekan-rekan media massa hingga ke unsur Muspika Cibinong, lantaran ruang diskusi dengan RW sudah tertutup. Bahkan saya sudah menyampaikan ke Kelurahan Karadenan kala itu minta difasilitasi sebelumnya kami juga ada suratnya, tapi menolak pihak kelurahan. Maka akhirnya kami berfikir ini ada apa gitu kan,” pungkasnya.

Diketahui, Rumah Sakit Islam (RSI) Aysha yang pembangunannya berlokasi di perumahan Acropolis, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, berindikasi memberikan banyak kerugian dan dampak buruk jangka Panjang bagi warga sekitar.

Lantaran, warga setempat mengklaim jika perencanaan pembangunan RSI Aysha ini telah di mulai sejak tahun 2018, tetapi hanya segelintir warga yang terlibat dan diminta persetujuan untuk proses pembanguan RSI ini.

Sementara itu, Ketua RW 18 Rakhmadi Dakhlan menjelaskan, terkait beredarnya surat yang mengatasnamakan forum aspirasi warga RW 18 perumahan Acropolis merupakan hoax. Pasalnya warga RW 18 sudah melakukan musyawarah dengan pihak pengembang RS Islam Aysha dan menghasilkan kesepakatan yang baik bagi warga.

Sementara, untuk kaitan soal perijinan yang dilakukan pengembangan kepada warga sudah dilakukan sejak 2018 dan selama proses tersebut selalu berkomunikasi dengan baik.

“Perijinan Amdal sudah keluar,” jelas Rakhmadi beberapa waktu lalu.

Menurut dia, semua proses seperti musyawarah dan sosialisasi selalu dilakukan pihak RS Islam kepada warga RW 18.

“Kami sudah melakukan rapat berkali-kali, dan pengembangan sudah melakukan sosialisasi dengan baik,” akunya.

Rakhmadi juga menambahkan, keberadaan RS Islam Asya nanti kedepannya dianggap akan mempermudah akses kesehatan bagi masyarakat, maupun menambah penghasilan warga sekitar.

“Ini salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui program Bogor Sehat,” tegas ketua RW ini.

Selain itu, sambungnya, pihak RS Islam Aysha juga saat ini sudah membantu biaya operasional Keamanan terpadu RW 18, dan kedepannya akan membuat Penerangan Jalan Umum (PJU), meningkatkan kebersihan lingkungan, relokasi pedagang yang akan ditempatkan di tempat yang layak, dan akan membuat akses jalan menuju perumahan lebih rapi dan menarik, serta akan membantu pengembangan fasilitas umum dan sosial.

“RS Islam Aysha nantinya setelah beroperasi semua kegiatannya Islami,” terangnya.

Rakhmadi berharap, dalam proses tahap pembangunan RSI ini masyarakat sekitar tidak menilai negatif atas pendirian rumah sakit Islam Aysha tersebut.

“Karena semua yang dilakukan pengembangan baik dari perijinan dan semua kegiatan berkaitan dengan operasional RS akan memperhatikan kepentingan dan keselamatan masyarakat setempat khususnya,” imbuhnya.

Terpisah, Legal PT Sari Gaperi (Perumahan Acropolis) Dede Sulaiman menuturkan, konsumen Acropolis harus memberikan dukungan penuh dengan dibangunnya RS Islam Asya, karena sudah sewajarnya diberi akses jalan dan kepentingan RS Islam buat masyarakat luas.

Ia menambahkan, pengembang RS selalu berkoordinasi baik dengan pihaknya.

“Dengan adanya RS Islam Ayhsa nanti maka lingkungan Acropolis akan berkembang pesat, tentunya akan mempunyai nilai plus bagi warganya dan masyarakat luas. Baik warga Acropolis maupun masyarakat sekitarnya sehingga mendapatkan akses RS lebih dekat dengan rumahnya,” tandasnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here