Dosen IPB Berbagi Tips Penanganan Hewan Qurban yang Aman selama Pandemi COVID-19

0
18

Lifestyle, BogorUpdate.com
Qurban adalah ibadah besar bagi umat Islam di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Tahun ini, qurban akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena pandemi COVID-19 memaksa umat Islam untuk berhati-hati dalam melakukan penyembelihan qurban. Dalam rangka mensosialisasikan prosedur penyembelihan hewan selama pandemi COVID-19, Departemen Penyakit Hewan dan Kesehatan Hewan, Universitas FKH IPB mengadakan webinar tentang penanganan hewan qurban yang aman selama pandemi COVID-19, Kamis (25/6/20).

Kepala Departemen Penyakit Hewan dan Kesehatan Hewan, Universitas FKH IPB , Dr. Yusuf Ridwan dalam sambutannya menyampaikan tren peningkatan kasus positif COVID-19 yang terjadi saat ini, diperkirakan pandemi tersebut tidak bisa mereda pada bulan Juli. “Karena itu, kita harus mewaspadai berbagai kegiatan termasuk kegiatan yang akan dilakukan dalam merayakan Idul Adha, yaitu perbudakan hewan qurban. Kita semua tahu bahwa semua kegiatan yang dilakukan harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga bahwa dalam penyembelihan dan penanganan hewan qurban juga harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, “kata Dr. Yusuf.

Drh Syamsul Ma’arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan penyembelihan hewan qurban dilakukan dengan mengacu pada peraturan pemerintah yaitu Surat Edaran Nomor 0008 /SE/Pk.032/F/06/2020 tentang Implementasi Kegiatan Qurban dalam Penyakit Virus Corona (COVID-19). Dia juga menyarankan untuk mengingat Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 114 tahun 2014 tentang Penyembelihan Hewan Qurban dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 sehubungan dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 61 .

“Peraturan ini dibuat dengan pertimbangan faktor risiko penularan COVID-19 selama kegiatan qurban yang akan datang. Tahun lalu, rata-rata komite untuk penyembelihan hewan qurban mencapai 56 orang di setiap tempat. Jumlah tempat pemotongan hewan qurban pada 2019 mencapai 30.359. Inilah yang harus kita waspadai bersama, “kata Syamsul. Karena itu, lanjut Syamsul, beberapa kegiatan mitigasi risiko untuk qurban mendatang adalah menjaga jarak fisik antara panitia, pelaksanaan kebersihan pribadi, melakukan pemeriksaan kesehatan dan pelaksanaan sanitasi tempat pemotongan hewan.

Sementara itu, Dr. drh Denny Widaya Lukman, dosen di IPB University yang juga anggota Komisi Ahli Kesehatan Hewan dari Kesehatan Masyarakat Veteriner, Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa dalam memasok daging qurban, kita harus memperhatikan untuk aspek halal, sanitasi kebersihan dan kesejahteraan hewan. “Penyembelihan hewan qurban adalah titik kritis ibadah Idul Adha. Kegiatan ini juga merupakan proses yang berpotensi menyebabkan stres, rasa sakit dan polusi,” jelasnya.

Untuk alasan ini, lanjutnya, hewan harus diperlakukan dengan baik sebelum dan selama proses penyembelihan. Sebelum disembelih, hewan qurban dapat ditempatkan di tempat perlindungan hewan yang terlindung dari matahari atau hujan. Tidak hanya itu, tempat perlindungan hewan perlu diberi penghalang atau pagar dan tidak ada bagian yang dapat menyebabkan hewan menjadi sakit atau terluka. Tempat perlindungan hewan juga harus memiliki ventilasi dan penerangan udara yang baik, memiliki jumlah air minum dan pakan yang memadai, dan memiliki lantai yang tidak licin dan mudah dibersihkan. Ukuran hunian juga harus disesuaikan dengan kapasitasnya sehingga hewan qurban tidak berdesakan.

“Jika hewan itu diikat, cobalah untuk tidak menggunakan tali pendek. Panjang tali harus memungkinkan hewan untuk berbaring, berdiri dan mencapai tempat makan dan minum mereka,” tambahnya.

Sebelum disembelih, ia menyarankan agar hewan berpuasa selama 12 jam. Hewan yang baru saja tiba di rumah jagal setelah melakukan perjalanan lebih dari 12 jam tidak diperbolehkan untuk disembelih segera dan harus diistirahatkan setidaknya selama 12 jam. Dia juga menyarankan rumah jagal agar memiliki lantai yang tidak becek, tidak licin, dan terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan didesinfeksi. Juga direkomendasikan bahwa rumah jagal tidak jauh dari tempat perlindungan hewan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, proses penyembelihan harus dilakukan dengan cepat, yaitu satu ayunan dan memotong tiga traktat, yaitu trakea, kerongkongan dan pembuluh darah. Pembantaian dilakukan tepat di bawah dagu pada tulang leher 1 hingga 3 (C1-C3) untuk mengurangi penyumbatan darah.

“Pastikan hewan itu mati sebelum memegang daging. Untuk penangan daging qurban yang telah disembelih, mereka harus memperhatikan prinsip kebersihan. Usahakan agar daging tidak terkena tanah atau lantai dan bahan kotor lainnya, seperti sebagai jeroan. Lebih baik jika tangan orang yang memegang daging selalu dijaga kebersihannya, “jelasnya.

Untuk pengemasan daging, daging bisa dikemas menggunakan kantong plastik dengan ukuran minimal 20 cm x 40 cm. Alternatifnya adalah keranjang yang dilapisi daun pisang. Dia juga menyarankan agar daging dan jeroan dibungkus secara terpisah.

 

 

 

 

(ipb/bing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here