Dinkes Kota Bogor Tak Beri Rekomendasi Pembelajaran Tatap Muka Siswa SD

  • Bagikan

Foto ilustrasi Pembelajaran Tatap Muka (Net)

Kota Bogor, BogorUpdate.com
Rencana Dinas Pendidikan (Disdik) menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada September nanti bagi 37 SMP dan 275 SD, mendapat respon dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor.

Kepala Dinkes, dr Sri Nowo Retno mengatakan bahwa pihaknya tidak merekomendasikan menggelar PTM bagi murid SD atau anak yang berusia dibawah 12 tahun.

Kata dia, walau Pemkot telah menyebut bahwa PTM bisa dilaksanakan apabila guru dan murid sudah 100 persen divaksin untuk pelaksanaan PTM, atau sekolah yang sudah divaksin dapat menjalankan PTM.

Namun kata dia, Dinkes berkeinginan untuk fokus dulu di bidang pendidikan. “Saya sih yang penting percepatan vaksinasi. Sekarang target kita vaksin anak sekolah,” ujarnya, Kamis (26/08/21).

Apalagi, kata Retno, berdasarkan data dari KPCPEN mengatakan bahwa ada sebanyak 104 ribu pelajar yang menjadi sasaran. Sedangkan, saat ini baru menyentuh 15 persen.

Atas dasar itu, pihaknya saat ini akan memprioritaskan vaksinasi massal untuk menyasar pelajar dalam waktu tiga hari kedepan.

“Saat ini kami mempunyai 64 ribu dosis pfizer. Prioritasnya untuk anak sekolah. Mudah-mudahan itu bisa tercapai untuk anak sekolah usia 12-17 tahun,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, setelah 64 dosis pfizer habis, pihaknya bakal meminta dosis vaksin baru ke pusat, guna menuntaskan anak sekolah yang belum menerima vaksinasi Covid-19.

“Saat nanti dipersyaratakan PTM itu anak sudah di vaksin, paling tidak kita sudah menyiapkan anak sudah divaksin,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Hanafi mengatakan, kendati saat ini ‘Kota Hujan’ sudah memasuki level 3, tetapi pihaknya tidak ingin terlalu buru-buru untuk PTM.

Ia mengaku tak peduli dengan daerah lain yang sudah lebih dahulu menggelar PTM pada PPKM Level 3.

“Kami tak ingin terburu-buru. Mesti ada persiapan dan kajian khusus agar tak berdampak pada lonjakan kasus Covid-19,” ungkapnya.

Menurutnya, sebelum melaksanakan PTM pihaknya akan melakukan ujicoba dan simulasi pada sejumlah satuan pendidikan di segala jenjang. Kini, sambungnya, verifikasi pada sejumlah sekolah, dimulai dari tingkat SD hingga SMP.

“Jadi ujicoba dulu, tapi belum bisa dipastikan kapan dalam waktu dekat,” ucapnya.

Saat pelaksanaan ujicoba, durasinya tak boleh lebih dari tiga jam secara bergantian. “Ujicoba akan dilakukan selama dua hari dalam sepekan dan tak lebih dari tiga jam dengan kapasitas 30 hingga 50 persen,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, ujicoba akan melibatkan 73 sekolah, namun seridaknya harus lolos verifikasi protokol kesehatan.

“Jadi ada 37 SMP, 20SMP negeri san 17 SMP swasta. Jadi untuk setiap kecamatan ada 6 SD negeri dan swasta,” katanya.

Hanafi menuturkan, untuk tingkat SD siswa yang bisa melaksanakan ujicoba PTM hanya siswa kelas atas. Mulai dari kelas 4 dan kelas 5, kemudian siswa SMP kelas 7 serta 8.

“Jadi untuk kelas 6 dan kelas 9 tidak, karena mereka sudah proses ke SMP dan SMA. Kalau kelas 1, 2, dan 3 SD belum direkomendasikan lantaran berbagai pertimbangan,” tandasnya.

 

 

 

 

 

(As/Bing)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.