Diduga Tak Mampu Lagi Bayar Biaya, PDP Covid-19 RS Hermina Pulang, Besoknya Meninggal

3
769

Cileungsi, BogorUpdate.com
Mewabahnya kasus Covid-19 di Kabupaten Bogor kini semakin memprihatinkan. Namun hal itu nyatanya dijadikan ajang cari keuntungan oleh sebagian Rumah Sakit (RS) Swasta. Hal itu terjadi di Kecamatan Cileungsi, salah satu warga Desa Pasirangin meninggal setelah dinyatakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dikeluarkan oleh pihak RS Hermina Mekarsari.

Kepala Desa Pasirangain, Ismail SH membenarkan jika ada salah satu warganya yang berinisial ESN meninggal pada hari Minggu (12/4/20) kemarin, karena dinyatakan PDP oleh pihak RS Hermina. Namun yang disesalkan warganya yang meninggal tersebut tidak dirujuk ke RSUD yang memang sudah di tunjuk pemerintah untuk menangani kasus Covid-19 sendiri.

“Iya memang betul salah satu warga saya berinisial ESN meninggal dengan status PDP yang dikeluarkan oleh RS Hermina Mekarsari. Namun pihak RS dirasa sangat keliru karena pasien tidak di rujuk ke RSUD, padahal pemerintah sudah menunjuk beberapa RS yang khusus untuk menangani kasus Virus corona tersebut,” Katanya, Senin (13/4/20).

Ismail menambahkan, Dari cerita suami ESN pada awalnya, istrinya tersebut masuk ke RS Hermina Mekarsari untuk pemeriksaan, namun pihak RS menyatakan bahwa ESN mengalami sakit ginjal dan harus melakukan operasi. Setelah operasi selesai, pasien diperbolehkan pulang namun selang beberapa hari ESN mengalami batuk. Karena khawatir pasca operasi akhirnya pihak keluarga membawa lagi ke RS Hermina dan dinyatakan PDP oleh pihak RS.

“Cerita awalnya yang diberikan oleh suaminya sih memang istrinya itu sakit ginjal dan dilakukan operasi dengan dibiayai oleh BPJS. Namun, pasca operasi akhirnya pihak keluarga membawa ESN ke RS lagi dengan keluhan batuk, setelah diperiksa dinyatakan PDP dan kembali di rawat beberapa hari dengan pembiayaan tunai,” Ungkapnya.

Karena makin membengkak, sambung ismail, baru lima hari dirawat saja untuk biayanya sudah mencapai Rp 25 juta hingga akhirnya ESN mengajukan untuk pulang, pada hari Sabtu (11/4/20). Berselang satu hari akhirnya ESN yang berstatus PDP tersebut meninggal dunia dan dimakamkan di kampung halamannya yaitu di Kabupaten Garut dengan penanganan jenazah sesuai prosuder yang sudah di tetapkan karena pasien berstatus PDP.

“Setelah ESN meminta pulang karena tak sanggup lagi mebayar biaya yang saat itu mencapai Rp 25 juta, berselang satu hari korban meninggal dan dimakamkan di Garut dengan penanganan sesuai prosedur. Kalau saja waktu itu pasien di rujuk ke RSUD mungkin tidak akan seperti ini,” Tutupnya.

Sementara itu, saat di konfirmasi pihak RS Hermina Mekarsari enggan menemui wartawan dengan alasan harus memperlihatkan surat tugas dari media masing-masing. “Tadi saya sudah telpon pihak managemen, katanya harus ada surat tugas baru bisa konfirmasi.” Ketus salah satu security RS Hermina Mekarsari, Entang. (End/Jis)

 

 

 

 

 

Editor : Endi

3 KOMENTAR

  1. Rumah sakit itu memang parah hilang kartu pasien saja harus Nebus 50.000 udah kayak kartu ATM aja senilai segitu kartu cuma kartu biasa juga…!!

  2. Apa gunanya rekam medis klo data dan riwayat pasien diumbar? Semua orang punya hak identitasnya diprivasi. Cukup penderita, keluarga, sama tim medis aja yang berhak tau. Bahkan kadang keluarga aja ada yang gatau. Lah ini kepala desanya tau dari mana?
    Jurnalis juga seharusnya check n recheck demi kredibilitas media dan profesi. Jelas harus fakta yang sebenarnya terjadi yang diberitakan.
    I know nothing about all the stuffs but i hope she is in peace right now 😭😭😭😭

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here