Type to search

Home Kesehatan News

Ini Dia, 5 Kebiasaan Buruk yang Membahayakan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan

Share

Foto ilustrasi (Net)

BOGORUPDATE.COM – Banyak yang tak sadar selama ini sudah melakukan kebiasaan yang dapat mengancam kesehatan. Beberapa di antaranya, mari kenali kebiasaan buruk yang dapat membahayakan telinga, hidung, dan tenggorokan, lalu segera menghentikannya.

1. Mengupil
Siapa yang tidak pernah merasakan nikmatnya mengupil? Sayangnya, kebiasaan tersebut termasuk kebiasaan buruk yang harus segera ditinggalkan.

Sebenarnya, upil adalah hasil buangan dari fungsi penyaringan udara oleh mukosa hidung, atau lendir yang berlebihan, yang kemudian mengering.

Alaminya, tubuh memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kotoran, seperti keringat dan daki dari kulit, feses dari sistem pencernaan, demikian pula kotoran telinga dan lendir yang dihasilkan oleh hidung.

Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter, kotoran hidung atau upil merupakan produk normal tubuh yang berperan dalam mempertahankan kesehatan hidung.

“Upil itu sendiri sebenarnya merupakan hasil pengeringan mukus atau lendir hidung. Lendir hidung yang diproduksi merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menyaring berbagai partikel asing yang berbahaya bagi tubuh saat bernapas,” kata dr. Alvin.

Selain itu, mengupil juga bisa sebabkan hidung berdarah. Bila ingin membersihkan kotoran hidung, jangan melakukannya asal-asalan, secara kasar, dan terlalu dalam, apalagi jika memiliki kuku panjang. Mengupil seperti itu akan memicu luka dan perdarahan hidung.

Bahkan, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal medis “European Respiratory Journal” tahun 2018, mengupil dapat memudahkan penyebaran bakteri penyebab pneumonia yang berbahaya.

2. Memasukkan benda asing
Kebiasaan ini terutama harus diperhatikan pada anak-anak. Mereka kerap memasukkan suatu benda ke telinga, hidung, dan tenggorokan. Pengawasan oleh orang tua dan/atau pengasuh sangat dibutuhkan.

Benda asing yang sering ditemukan pada anak meliputi kacang, busa sofa, peluru mainan pistol, baterai, dan lain-lain. Meski merupakan ketidaksengajaan, tetapi karena banyaknya kasus yang terjadi, jangan biarkan anak yang belum cukup umur bermain dengan benda-benda berukuran kecil, atau meninggalkannya bermain sendirian tanpa pengawasan.

Bila sampai anak kemasukan benda asing, benda tersebut harus dikeluarkan oleh tenaga medis profesional. Jangan berinisiatif untuk mengeluarkannya sendiri dengan cara mencongkel, mengisap, menusuk, atau metode lainnya yang justru dapat membuat benda tersebut makin terdorong ke dalam.

3. Merokok dekat anak
Asap rokok merupakan iritan dan racun, baik bagi perokok aktif maupun pasif. Anak-anak yang sering menghirup asap rokok terbukti sering mengalami penyakit pada telinga, hidung, dan tenggorokan.

Penyebabnya adalah karena partikel asap rokok serta zat-zat kimia berbahaya di dalamnya dapat menyebabkan gangguan fungsi rambut halus di mukosa hidung, serta gangguan produksi lendir.

Meski jarang terjadi, salah satu risiko anak yang sering terpapar asap rokok adalah kanker paru.

“Kanker paru memang tak serta merta terjadi pada masa kanak-kanak. Studi menyebutkan bahwa anak yang menjadi perokok pasif memiliki risiko 1,5 hingga 2 kali lipat mengalami kanker paru saat ia dewasa,” kata dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter.

“Risiko lebih besar jika anak sudah ‘menghirup’ asap rokok sejak dalam kandungan karena sang ibu merokok, atau terbiasa menghirup asap rokok. Racun dalam asap rokok bisa diteruskan ke anak melalui plasenta dan melalui air susu ibu saat si kecil sudah lahir,” lanjutnya.

Tak hanya kanker paru, anak yang menjadi perokok pasif juga berisiko mengalami kanker lainnya saat dewasa, seperti limfoma dan leukemia.

Tak hanya efek jangka panjang saat dewasa, anak yang sering mengisap asak rokok juga rentan mengalami berbagai penyakit saat kanak-kanak.

“Studi membuktikan bahwa asap rokok meningkatkan risiko anak mengalami sudden infant death syndrome (SIDS) sebesar 94 persen, meningkatkan risiko asma sebesar 21 persen, meningkatkan risiko infeksi telinga tengah sebesar 50 persen, serta risiko gangguan saraf sebesar 60 persen,” dr. Resthie memaparkan.

4. Meneteskan cairan minyak atau ramuan tradisional
Masih banyak orang tua yang menganggap bahwa meneteskan minyak kayu putih atau minyak tawon ke dalam rongga hidung akan menyembuhkan anak yang sakit. Orang dewasa pun banyak yang melakukannya. Padahal, kebiasaan ini dapat merusak fungsi dari silia dan mukosa di hidung.

Soluen atau pelarut maupun kandungan zat aktif yang tidak sesuai sebaiknya tidak digunakan. Walaupun pengobatan topikal dianjurkan, tetapi jenisnya bukan sembarangan. Gunakan nasal saline atau dekongestan dan antiinflamasi yang memang ditujukan untuk hidung.

5. Membersihkan telinga setiap hari
Sekilas terdengar sehat, tetapi nyatanya tidak. Diutarakan oleh dr. Devia Irine Putri juga dari KlikDokter, alasan pertama adalah akibat penggunaan cotton bud yang dapat membuat kotoran telinga semakin terdorong ke dalam.

Selain itu, bisa terjadi cedera pada gendang telinga akibat terdorongnya cotton bud terlalu dalam. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang cukup serius pada seseorang.

“Perlu Anda ketahui, tanpa Anda bersihkan setiap hari, kotoran telinga dapat keluar sendiri karena adanya gerakan mengunyah saat makan maupun berbicara. Getaran yang muncul membuat kotoran telinga terdorong ke arah luar dan akhirnya bisa terlepas sendiri,” jelas dr. Devia.

Alasan kedua, membersihkan telinga setiap hari meningkatkan risiko terjadinya infeksi di sekitar liang telinga.

“Hal ini terjadi karena liang telinga yang memiliki kelenjar menjadi lebih kering akibat terlalu sering dibersihkan, sehingga saat bergesekan dengan cotton bud, akan mudah terluka dan mudah mengalami infeksi,” katanya lagi.

Apabila Anda ingin membersihkan telinga, dr. Devia menyarankan Anda untuk membersihkan bagian luarnya saja, dengan menggunakan handuk atau kain hangat yang bersih.

Hindari mengorek dengan cotton bud atau penjepit tajam lainnya. Jika telinga sering gatal, mengalami gangguan pendengaran, atau sering berdengung, sebaiknya periksakan diri ke dokter spesialis THT.

Segera hentikan kebiasaan buruk yang membahayakan telinga, hidung, dan tenggorokan seperti lima contoh di atas, agar kondisi kesehatan ketiga organ tersebut senantiasa terjaga.

 

 

 

 

 

Editor : Endi | Klikdokter.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: