Tata Moda Transoprtasi, Pengoperasian Bus di Terminal Baranangsiang Bakal Dipecah

 

BOGORUPDATE.COM – Guna menata dan mempersiapkan pusat moda transportasi jangka panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan memindahkan sejumlah rute bus dari Terminal Tipe A, Baranangsiang ke terminal lokal yang dikelola pemerintah daerah.

 

Hal tersebut diungkapkan Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat menggelar apel bersama antara Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dengan Muspida Kota dan Kabupaten di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Senin (05/08/2019) pagi.

 

“Yang pertama kami sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat juga agar operasionalisasi bus wilayah Bogor, Sukabumi, Pelabuhan Ratu, Cibadak, mungkin nanti kita akan geser ke Ciawi kemudian untuk Bogor, Tangerang, BSD, Ciputat, kita akan coba geser ke terminal Bubulak,” ujar Dedie.

 

Oleh karenanya, sambung Dedie, ia meminta kepada semua pihak agar mendukung dan memahami hal tersebut. Sebab, sebagian aktivitas di Terminal Baranangsiang masih tetap berjalan sesuai fungsinya.

 

“Untuk itu semua pihak bisa memahami hal ini, karena sebagian fungsi masih akan dilaksanakan di Terminal Baranangsiang, termasuk juga untuk rute Bogor, Jakarta dan sekitarnya. Jadi terminal ini masih akan difungsikan, mohon dukungan dari teman – teman sekalian semua yang hadir disini juga, sementara pembangunan kita proyeksikan tentu akan dilaksanakan segera di terminal ini,” ungkapnya.

 

Disamping itu, Dedie menjelaskan, Terminal Baranangsiang akan menjadi pusat atau titik bersatunya beberapa moda transportasi, yang antara lain ke depan akan ada Light Rail Transit (LRT). Menurut Dedie, stasiun akhir LRT belum tentu landasan di Terminal Baranangsiang, namun ia memperkirakan akan ada disekitar terminal.

 

“Memang belum tentu di dalam terminal ini, tetapi mungkin di area sekitar sini kemudian juga ada bus dan juga ada trem. Untuk itu kita perlu persiapan mendalam beberapa pihak, dan saya ucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat yang dalam hal ini juga sudah mendukung upaya-upaya perbaikan dari sistem transportasi di Kota Bogor,” urainya.

 

Sementara itu, Kepala BPTJ, Bambang Prihartono menuturkan, revitalisasi Terminal Baranangsiang akan dilakukan mulai akhir tahun 2019. Revitalisasi dilakukan untuk meningkatkan pemberdayaan pengoperasian Terminal tipe A Baranangsiang.

 

“Ke depan, Baranangsiang ini akan melayani simpul-simpul moda transportasi yang cukup banyak, kita perlu berdayakan terminal ini, kenapa demikian? Pertama ini terminal tipe A, kedua Baranangsiang ini di Kota Bogor tempat domisili bapak Presiden,” tutur Bambang.

 

Menurut Bambang, Terminal Baranangsiang masa depan tidak hanya melayani transportasi bus. Namun juga menjadi stasiun akhir untuk LRT yang segera tersambung ke Bogor. Selain itu, Terminal Baranangsiang juga akan membangun sistem transportasi massal perkotaan sejenis trem. Transportasi tersebut merupakan hibah dari Belanda yang ditargetkan beroperasi di Kota Bogor 2020 mendatang.

 

“Peran Terminal Baranangsiang ini akan sangat penting, nanti akan dibangun terminal yang sifatnya mengintegrasikan beberapa moda transportasi, namanya TOD. Kenapa diperlukan, ya untuk mempermudah perjalanan masyarakat Kota Bogor, karena saat ini kereta komuter juga sudah padat, jadi perlu tambahan moda lain,” ucap Bambang.

 

Revitalisasi Terminal Baranangsiang, lanjut Bambang, akan dilakukan berbarengan dengan pembangunan sistem transportasi massal perkotaan trem, dan LRT. Bambang menjamin revitalisasi terminal tidak akan mengganggu aspek ekonomi masyarakat karena kepentingan bisnis masyarakat akan sangat diperhatikan. (Rie)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Endi

Bima: Faktor Keluarga Pengaruhi Perubahan Sosial

 

BOGORUPDATE.COM – Wali Kota Bogor, Bima Arya menerangkan, jika berbicara tentang perubahan sosial ada banyak aspek utama yang mempengaruhinya. Utamanya adalah faktor keluarga.

 

“Menurut saya diantara banyak faktor utama yang mempengaruhi perubahan sosial adalah faktor keluarga menjadi yang paling utama. Saat ini Kota Bogor sedang fokus pada isu tentang keluarga,” kata Bima Arya saat Welcome Speech pada The 2nd International Seminar on Family and Consumers Issues in Asia (ISFCI) 2019 yang diselenggarakan IPB di Gedung Sekolah Bisnis, Kampus IPB Gunung Gede, Jalan Raya Pajajaran, Kota Bogor, Senin (05/08/19).

 

Jika bicara tentang keluarga atau pembangunan sosial, lanjut Bima tidak sekedar berbicara pembangunan infrastruktur yang merupakan salah satu bagiannya. Namun menyangkut banyak hal yang dalam perumusan kebijakan dan penerapan programnya. Untuk itu diperlukan kajian dan pendekatan.

 

“Saya memiliki keyakinan jaringan dan kolaborasi yang saya bangun dan sering saya sebut sebagai pentahelix (pemerintah, sektor swasta, komunitas, akademisi dan media) menjadi faktor pendukung dalam membangun Kota Bogor. Pemkot Bogor tidak bisa melakukannya sendiri, kita butuh pihak lain untuk membantu menjalankan program dan kegiatan,” katanya.

 

Apa yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sejak beberapa tahun lalu kata Bima, mengimplementasikan program yang diadaptasikan dari mulai tingkat nasional hingga tingkat profesional dengan melibatkan kelima aspek tersebut.

 

Salah satunya Sekolah Ibu yang mengajarkan hal-hal tentang ketahanan keluarga agar para ibu lebih paham apa yang harus dilakukan terhadap anak dan keluarga.

 

Contoh lainnya adalah Kota Bogor menjadi pelopor di Indonesia dalam penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui Peraturan Daerah (Perda) KTR yang belum lama ini mendapat apresiasi dari lembaga kesehatan dunia WHO PBB.

 

Bima juga menjelaskan, setelah empat tahun Pemkot Bogor melakukan perbaikan dan pembangunan fasilitas publik, mulai dari taman hingga pedestrian. Kantor Kementerian Agama Kota Bogor mencatat dan menyampaikan data bahwa angka perceraian di Kota Bogor menurun dan ini pertama kali dalam sejarah Kota Bogor. “Ini disebabkan bukan hanya satu faktor namun banyak faktor,” sebutnya.

 

Sebelumnya, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Prof. Ujang Sumarwan mengatakan, seminar ini sangat penting karena dihadiri para narasumber dari berbagai negara. Ini adalah langkah kecil dalam membantu pemerintah dalam membuat kebijakan yang berkelanjutan.

 

Menurutnya, keluarga merupakan unit terkecil dari lingkungan sosial dan pusat kehidupan masyarakat. “Keluarga menyediakan tenaga kerja yang bagus melalui pendidikannya, tanpa itu mustahil dibangun bangsa yang bagus, permasalahan dalam keluarga adalah permasalahan kita semua,” katanya.

 

Komitmen yang ditunjukkan Pemkot Bogor terkait ketahanan keluarga layak mendapat apresiasi. “Melalui seminar ini semoga bisa menambah pemahaman kita tentang keluarga dan konsumen,” kata Prof. Ujang.

 

Ketua Panitia ISFCI 2019, Tin Herawati mengatakan, dalam seminar yang dilaksanakan setiap tahun ini berlangsung selama dua hari, 5 – 6 Agustus 2019.

 

Panitia menghadirkan para narasumber dari berbagai negara untuk bisa berbagi pengalaman dan mempelajarinya untuk kemudian bisa diadopsi dan menjadi rekomendasi bagi Pemkot Bogor untuk ditindaklanjuti dalam bidang keluarga. (Rie)

 

 

 

 

 

 

Editor : Endi